Thursday, January 15, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Gebrakan PSSI! John Herdman Resmi Pegang Timnas Indonesia, Harapan Tinggi, Ujian Cepat Menanti

Olahraga 360 Kalau ada satu kata yang paling pas menggambarkan keputusan PSSI hari ini, itu “gebrakan”. Nama yang diumumkan bukan pelatih lokal, bukan juga eksperimen jangka pendek. PSSI resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia, sebuah langkah yang langsung mengubah suhu pembicaraan publik: dari sekadar menebak siapa pengganti, menjadi menilai seberapa jauh Garuda bisa melompat.

Pengumuman itu disampaikan pada Sabtu, 3 Januari 2026. Dalam pernyataan tertulis yang dikutip ANTARA, Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut penunjukan John Herdman sebagai “momen era baru” karena Timnas Indonesia akan ditangani pelatih berpengalaman Piala Dunia.

Bagi pendukung Timnas, momen ini terasa seperti membuka lembar baru dengan tinta tebal. Namun bagi John Herdman, ini juga berarti hal yang sama: ekspektasi langsung disetel tinggi sejak hari pertama. Tidak ada masa bulan madu yang panjang dalam sepak bola Indonesia. Jadwal menunggu, hasil diminta, dan perubahan harus terlihat.

Pengumuman PSSI dan alasan yang disampaikan ke publik

PSSI menyatakan John Herdman menggantikan Patrick Kluivert, yang disebut diberhentikan pada Oktober setelah Timnas Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Pada saat yang sama, Erick Thohir menekankan dukungan pemerintah untuk pembenahan tata kelola dan penguatan fondasi sepak bola Indonesia, terutama di level usia muda, lalu mengaitkannya langsung dengan keputusan menunjuk Herdman.

Narasi ini penting karena memberi konteks: penunjukan pelatih bukan berdiri sendiri, melainkan dimasukkan ke kerangka program yang lebih agresif. Dari sudut pandang komunikasi publik, PSSI seperti ingin menyampaikan dua pesan sekaligus. Pertama, Timnas Indonesia masuk fase yang lebih “serius” dengan standar pengalaman global. Kedua, proyeknya bukan hanya mengejar hasil cepat, tetapi juga membangun fondasi.

Dalam laporan yang sama, PSSI juga menyebut John Herdman menolak tawaran dari Honduras dan menerima mandat tambahan untuk menangani Timnas U-23, dengan tujuan mengembangkan serta mengintegrasikan talenta muda ke tim senior. Ini membuat perannya jauh lebih besar daripada sekadar melatih sebelas pemain inti.

Di titik ini, keputusan PSSI bisa dibaca sebagai investasi ganda: memperbaiki performa tim senior, sambil merapikan jalur regenerasi. Dan bila dua jalur itu bisa berjalan sinkron, Timnas Indonesia akan punya satu hal yang selama ini sering dicari publik: kontinuitas.

Siapa John Herdman dan mengapa profilnya dianggap “langka”

Nama John Herdman dikenal luas karena kisahnya di Kanada. PSSI menyoroti fakta yang terdengar sederhana tetapi sebenarnya jarang: Herdman adalah pelatih pertama yang membawa tim nasional putra dan putri dari negara yang sama lolos ke Piala Dunia FIFA. Ia mengantar Kanada putri tampil di Piala Dunia 2007 dan 2015, lalu membawa Kanada putra lolos ke Piala Dunia 2022.

FIFA sendiri menegaskan bahwa Kanada memastikan tiket ke Piala Dunia 2022 setelah penantian 36 tahun, memberi gambaran seberapa besar transformasi yang pernah ditangani Herdman. Bagi pendukung Timnas Indonesia, ini memberi alasan untuk optimistis: ada pelatih yang terbiasa membangun “proyek”, bukan hanya memoles tim yang sudah jadi.

Namun Indonesia bukan Kanada. Tekanan sosialnya berbeda, ritme kompetisinya berbeda, dan kultur ruang gantinya pun unik. Karena itu, tolok ukur realistis pada fase awal bukan semata kemenangan besar, melainkan identitas permainan yang mulai terbaca. Tim yang tahu apa yang ingin dilakukan, biasanya lebih cepat stabil daripada tim yang hanya mengandalkan momen.

Di sinilah reputasi John Herdman menjadi relevan. Ia dikenal sebagai pelatih yang kuat dalam membentuk kultur tim dan standar kerja, sesuatu yang sering menjadi pembeda ketika sebuah tim nasional ingin naik level, bukan hanya naik euforia.

Wajib Tahu:

PSSI menegaskan satu poin yang menarik: John Herdman diberi mandat menangani Timnas Indonesia senior sekaligus U-23, dengan fokus pengembangan dan integrasi talenta muda ke tim utama.
Artinya, ukuran keberhasilan Herdman bukan hanya hasil satu turnamen. Ia juga dinilai dari seberapa rapi jalur pemain muda menuju tim senior, dan seberapa konsisten Timnas Indonesia punya pola main yang bisa diwariskan lintas kelompok usia.

Agenda 2026: ujian pertama datang lebih cepat dari yang dibayangkan

Kalender 2026 praktis tidak memberi ruang untuk pemanasan panjang. PSSI menyebut tantangan pertama John Herdman datang dari FIFA Series pada jendela FIFA Match Day 23 sampai 31 Maret 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Setelah itu, masih ada rangkaian FIFA Match Day pada Juni, September, Oktober, dan November, ditambah Piala AFF 2026 yang dijadwalkan mulai 25 Juli.

Untuk publik, rangkaian jadwal ini berarti satu hal: fase adaptasi akan terlihat di depan mata, bukan disimpan di balik pintu latihan. Setiap FIFA Match Day bisa menjadi etalase, dan setiap kesalahan kecil bisa jadi bahan evaluasi besar.

Dari sisi kerja pelatih, agenda padat seperti ini memaksa John Herdman mengambil keputusan cepat. Ia harus segera menentukan kerangka tim, menetapkan standar latihan, dan memilih bentuk permainan yang paling realistis untuk ditanam dalam waktu singkat. Pelatih tim nasional sering tidak punya kemewahan seperti pelatih klub yang bertemu pemain setiap hari.

Sementara itu, di level U-23, PSSI juga menyebut Herdman akan memimpin Garuda Muda di Asian Games Aichi–Nagoya, Jepang, mulai 19 September 2026. Ini membuat tahun pertamanya benar-benar padat: satu tangan memegang tim senior, tangan lain menuntun jalur regenerasi.

Prediksi arah permainan Timnas Indonesia di bawah Herdman

Lalu, apa prediksi paling masuk akal dari era John Herdman?

Pertama, perubahan paling cepat biasanya tampak pada organisasi tanpa bola. Pelatih berpengalaman internasional cenderung memulai dari hal yang paling bisa dikontrol: jarak antarlini, disiplin menutup ruang, dan cara tim bereaksi ketika kehilangan bola. Itu fondasi. Dari fondasi itulah kreativitas serangan bisa tumbuh.

Kedua, Herdman kemungkinan akan menuntut intensitas yang lebih konsisten. Bukan berarti Timnas Indonesia akan selalu menekan tinggi tanpa henti, tetapi pressing akan lebih “bermaksud”: kapan naik, kapan menunggu, kapan memaksa lawan mengalirkan bola ke area yang diinginkan. Pada level internasional, pressing yang asal mengejar justru membuka celah.

Ketiga, karena ia juga menangani U-23, sinyalnya jelas: ada kemungkinan pola main tim senior dan U-23 dibuat serupa agar transisi pemain lebih mulus. Mandat pengembangan talenta muda yang disampaikan PSSI menguatkan prediksi ini. Jika berjalan, Timnas Indonesia bisa memiliki identitas yang lebih utuh, bukan tergantung generasi tertentu.

Namun ada satu catatan yang tidak boleh diabaikan: sepak bola Indonesia selalu menuntut hasil. Maka tantangan Herdman adalah menyeimbangkan proses dengan target jangka pendek. Ia perlu menunjukkan tanda perubahan sejak awal, minimal lewat struktur permainan yang lebih rapi, pilihan pemain yang punya logika jelas, dan tim yang terlihat percaya diri.

Di ujungnya, penunjukan John Herdman adalah janji besar. PSSI memasang standar tinggi dengan memilih pelatih berpengalaman Piala Dunia. Dan publik akan menagih balik, bukan dengan rumor atau asumsi, tetapi dengan pertanyaan yang sederhana: apakah Timnas Indonesia bermain lebih jelas, lebih berani, dan lebih siap menang.

Sumber: detiksport

Popular Articles